Minggu, 24 November 2013

A Small Story

A boy and a girl were playing together. the boy had a collection of marbles. the girl had some sweets with her.
the boy told the girl that he will give her all his marbles in exchange for her sweets. the girl agreed.
the boy kept the biggest and the most beautiful marble aside and gave the rest to the girl. the girl gave him all her sweets as she had promised.
that night, the girl slept peacefully. but the boy couldn't sleep as he kept wondering if the girl had hidden some sweets from him the way he had hidden his best marble.

moral of the story:
"If you don't give hundred percent in relationship, you'll always keep doubting if the other person has given his/her hundred percent.. This is applicable for any relationship like love, friendship, employer-employee relationship, etc."

Give your hundred percent to everything you do and sleep peacefully.

JIka Anda Merasa Tidak Percaya Diri, Jadikan Kisah Ini Sebagai Penguat Dirimu.


Copied from a website.

Sebut saja nama saya Rahma. Saat ini usia saya 24 tahun. Kisah ini bermula sejak saya menjadi murid sekolah dasar. Bisa dikatakan, saya ini lahir dari keluarga yang memiliki tubuh subur. Bentuk tubuh yang besar dari orangtua saya menurun pada saya. Sejak lahir, ukuran tubuh saya memang lebih besar dibandingkan anak-anak sebaya saya. Orang tua saya sudah menduga bahwa saya memiliki bakat bertubuh besar seperti mereka.

Masalah mulai timbul saat saya duduk menjadi murid di kelas 3 sebuah sekolah dasar. Entah siapa yang memulai, teman-teman saya mulai memberi julukan "Gendut!". Saat itu, saya sadar kalau tubuh saya memang lebih besar dari teman-teman saya, tetapi tetap saja, saya merasa malu dan menangis sepulang dari sekolah. Saat itu ibu saya mengatakan, "Tidak apa-apa, tunjukkan pada mereka kalau kamu tidak hanya besar tubuhnya, tetapi prestasinya juga,"
Ucapan dari ibuku menguatkanku, sehingga saya tidak pusing memikirkan ejekan teman-temanku. Walaupun pada saat itu, saya sering mengalami kesulitan saat pelajaran olahraga. Saat saya harus melakukan olahraga roll ke depan (berguling ke depan di atas matras), teman-teman saya tertawa dan mengatakan bahwa saya terlihat seperti bola yang menggelinding. Ejekan itu membuat saya menangis diam-diam di kamar mandi sekolah. Sengaja kejadian itu tidak kuceritakan pada ibu, saya takut ibu sedih.

Saat saya masuk ke SMP dan SMA, saya menjadi anak pendiam. Ejekan itu masih melekat. Saya akui, hal tersebut berpengaruh pada berkurangnya rasa percaya diri, walaupun saya tetap menjaga kata-kata ibu untuk tetap berprestasi. Nilai-nilai saya di sekolah selalu baik, setidaknya tiga besar selalu saya raih. Tetapi saya tetap remaja perempuan saat itu, saya sering iri melihat teman-teman saya bisa memakai baju yang cantik-cantik, sedangkan saya, sulit sekali mencari baju untuk ukuran tubuh saya yang besar.
Semakin banyaknya iklan televisi yang menampilkan wanita-wanita bertubuh langsing membuat rasa iri saya semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi dengan maraknya program diet untuk menurunkan berat badan.

Saat itu saya masih SMA dan tertarik untuk melakukan diet, tapi ibu saya menolak. Beliau bilang, saya masih dalam masa pertumbuhan, tak baik jika membatasi asupan makanan.
Saya tahu bahwa pemikiran ibu benar, tetapi keinginan untuk menurunkan berat badan dan memakai pakaian cantik membuat saya nekat memangkas porsi makan sehari-hari, tentunya tanpa sepengetahuan ibu saya. Tak perlu menunggu hingga satu bulan, di minggu ketiga, saya ambruk dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter menyatakan kalau saya mengalami kekurangan gizi. Bukan langsing yang didapat, tetapi menginap di rumah sakit selama tiga hari.

Sejak kejadian itu, saya tidak lagi melakukan diet karena ujian akhir kelulusan SMA semakin dekat, saya berkonsentrasi pada ujian. Ibu saya mengatakan bahwa tubuh saya ini adalah anugrah dari Tuhan yang harus disyukuri, saya memang berbakat gemuk sehingga sangat sulit jika ingin selangsing tubuh para model. Selama saya bisa menjaga asupan makanan bernutrisi saya tak terlalu khawatir.
Bersyukur pada Tuhan adalah hal yang dikedepankan ibu saya. Saya lakukan hal itu dengan terus mengucap syukur setiap kali berdoa. Saya telah dilimpahi berbagai berkah, khususnya ibu saya yang selalu ada di samping saya untuk menguatkan hati saya setiap saat. Rasanya tak pantas jika saya terus mengeluh dan menyalahkan Tuhan karena memberi saya tubuh yang besar.

Dan Tuhan memang baik, sebelum hari kelulusan SMA, saya mendapat kabar bahwa saya diterima pada salah satu universitas di Australia. Yang lebih menggembirakan, saya mendapat beasiswa 100%, orang tua saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk masa kuliah saya. Saya menangis senang karena setidaknya saya bisa meringankan beban orang tua.

Selepas SMA, saya menetap di Australia. Walaupun jujur, saya selalu kangen dengan keluarga saya, terutama ibu. Tetapi pengalaman ini saya jadikan pelajaran agar saya makin mandiri. Di Australia, tidak ada seorangpun yang memanggil saya "Gendut!" kalaupun ada, telinga saya sudah kebal dan akan saya anggap sebagai panggilan sayang.

Masa kuliah saya habiskan dengan cepat, dan lagi-lagi dengan prestasi yang membanggakan. Setelah saya kembali ke Indonesia, saya mendapat tawaran sebagai staf produksi salah satu pengusaha kain Indonesia yang sering melakukan ekspor ke Australia. Saya tak menolak tawaran itu, dan bekerja sebaik mungkin. Tubuh saya yang besar tak menjadi halangan.

Berkat kerja keras dan doa yang tak pernah putus, saat ini saya sudah menjadi salah satu orang kepercayaan pengusaha tersebut untuk mengembangkan bisnisnya. Bisa dikatakan, penghasilan saya jauh lebih besar dibandingkan teman-teman semasa SD yang mengejek saya dengan sebutan "Gendut!".

Sekarang, saya telah menikah dan memiliki seorang putri yang sudah berusia 2 tahun. Tak ada lagi minder atau tidak percaya diri. Saya bahagia dengan keluarga kecil ini. Pengalaman hidup saya dan ejekan di masa lalu menjadi penguat hidup saya bahwa fisik tidak seharusnya menjadi penghalang seseorang dalam berkarya dan menghasilkan sesuatu yang baik untuk orang lain. Seperti yang sering dikatakan ibu saya, "Tubuh boleh besar, prestasi juga harus besar,"

Mengatakan orang lain gemuk, tidak akan membuatmu kurus.
Memanggil orang lain dengan sebutan bodoh tidak akan membuatmu menjadi pintar.

Masalah didalam hidup.

Dalam hidup, masalah bagaikan segelas air yang kamu pegang. Kamu akan membiarkannya untuk beberapa saat dalam genggamanmu, seperti kamu menggenggam masalah dalam pikiranmu. Semuanya akan terasa masih baik-baik saja. Namun, jika kamu terus menerus membiarkan pikiran tersebut di kepalamu tanpa melakukan apa-apa juga, maka hal itu akan membebanimu. Sama halnya dengan memegang gelas yang lama-lama kamu akan merasa lelah juga. Jadi, mengapa tidak kita turunkan 'gelas permasalahan' tersebut sebelum kita tidur? Dengan begitu, setidaknya kamu mempersilakan pikiranmu beristirahat sejenak untuk kemudian bisa menghadapinya kembali dengan lebih baik esok hari.

Berilah Motivasi untuk Dirimu!

Kita semua tentunya pernah merasakan kegagalan. entah itu kegagalan dalam suatu hubungan, kegagalan dalam suatu kerjasama, ataupun kegagalan-kegagalan lainnya. namun, kita ga seharusnya meratapi kesedihan. sudah sepatutnya kita berjuang untuk kehidupan kita selanjutnya. Untuk kamu yang sedang merasa ngedown akibat kegagalan yang sedang kamu hadapin, sebaiknya kamu baca kalimat-kalimat motivasi ini.

"There is nothing to hold you back except you"
Ketika kamu berjuang, kamu melakukannya untuk kebaikanmu. Maka ketika kamu jatuh, kamu pula yang paling bisa membantu dirimu sendiri. Jangan menyalahkan orang lain kalau kamu merasa mereka tidak ada untuk kamu, atau mereka tidak cukup membantumu. Peluklah dirimu pada kegagalan yang kamu temui. Katakan bahwa kamu masih punya dirimu sendiri untuk diperjuangkan, kamu berhak atas kebahagiaan. Love your self.

"It’s often hard to tell just how close you are to success."
Jangan katakan bahwa mereka yang menyemangatimu hanya bisa ngomong. Bila kamu berkata, "Nggak mungkin," maka kamulah yang pesimis dan tidak meyakini kemampuanmu sendiri. Selalu sulit menjelaskan bahwa kita sudah dekat dengan kesuksesan, namun sejak kamu tahu bahwa inilah kenyataannya, maka jangan berhenti berusaha.

"Life is 10% what happens to you and 90% how you react to it"
Seringkali kita menyalahkan keadaan, memangnya apa yang sudah kita lakukan? Apakah hidup ini memang mengontrol kita? No, kita bisa mengontrol hidup kita sendiri karena kita dipercaya oleh Tuhan memiliki sebuah nyawa dan selembar kehidupan untuk dinikmati. Ya, dinikmati segala perjuangan dan hasilnya. So, semua ini bukan perkara situasi, tapi perkara kita mencari dan menjadi solusi atas apa yang kita hadapi.

"Not getting what you want is sometimes a wonderful stroke of good luck."
Bila kamu tidak mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, percayalah bahwa itu yang terbaik. Karena suatu ketika kamu akan mengetahui mengapa kamu memang tidak perlu memperoleh hal itu dalam kehidupanmu. Namun tetap belajar untuk mengikhlaskan semuanya pada Tuhan, sekalipun kamu mendapatkan yang kelihatan lebih kecil dari apa yang Anda inginkan.

Meniti Langkah Kecil Menuju Kemenangan

Copied from a website.

Ana, kelas empat SD, mengadu pada ayahnya bahwa ia sering kepagian datang ke sekolah. Mau bagaimana lagi? Ana masih belum bisa berangkat sendiri, ibunya dan ayahnya harus berangkat pagi sekali karena jarak rumah ke tempat sekolah dan kerja sangat jauh. Akhirnya mereka harus berangkat bersama-sama.
"Kalau kepagian, PR-nya dicek lagi. Kalau sudah, belajar yang lain," pesan ibunya.
Ana pun melaksanakannya. Setiap hari ia jalani seperti itu sampai setahun kemudian mereka pindah ke tempat yang lebih strategis. Kali ini Ana mengeluh bahwa ia jadi bangun kepagian karena sudah terbiasa bangun lebih awal untuk berangkat pagi.
"Sholat subuh saja, Nak. Mengaji juga kalau sempat," kata sang ayah.
Ana pun melakukannya hingga menjelang ujian kelulusan. Namun ia sedikit cemas. Ia berkata bahwa dirinya merasa tidak yakin akan lulus.
"Ya memang harus belajar. Pasti bisa," ujar ibunya.
"Jangan lupa berdoa," tambah sang ayah.
Di akhir tahun ajaran, ternyata Ana memperoleh ranking pertama setelah sebelumnya ia hanya masuk sepuluh besar.
"Ayah, Ibu. Aneh sekali, aku nggak merasa ujiannya susah. Aku bisa mengerjakan hampir semua soal dan waktu mengerjakan aku nggak takut. Ternyata aku malah juara satu," celoteh Ana riang dan berbinar-binar.
Sang ayah dan ibu hanya tersenyum. Mereka kemudian memberi selamat sambil mencium putri kesayangannya itu.
"Ini adalah ganjaran atas apa yang telah kamu lakukan selama ini. Bila kamu mau mempersiapkan diri sejak dini, kamu akan bisa menghadapi dan memenangkan apa yang kamu hadapi itu," ujar sang Ayah sambil menggandeng anaknya pulang ke rumah.

Sabtu, 23 November 2013

Bunga Chintya Ridayanti

Postingan kali ini gue akan bahas Bunga, chairmate gue waktu gue kelas 3 SMA karena sebelumnya gue juga pernah request ke dia buat posting sesuatu tentang gue di blognya dia hehe.

well...
jadi sebenernya panggilan buat Bunga itu lumayan banyak. mulai dari Bunga, Panda, Unga, Kendor, Teteh, dll. tapi gue biasa manggil dia panda.
awal perkenalan gue sama panda juga secara ga sengaja alias kocak banget. jadi waktu lg MOS SMA gue dan siswa-siswi lainnya lagi pada sholat dzuhur di masjid sekolah terus tiba-tiba si panda manggil nama gue dan seketika itupun gue ngerespon tp ternyata Khansa yang dimaksud sama panda itu bukan gue. iya, di SMA gue ada 2 orang yang namanya sama kayak gue makanya gue udah kepedean aja pas dipanggil hehe.
ternyata waktu kelas 3 SMA gue sekelas sama dia dan bahkan gue jadi chairmate-nya dia. jujur gue suka ketawa sendiri kalo inget awal perkenalan gue sama dia hahaha

Gue sama panda ini bagaikan "Duo Kendor" karena kita sebangku dan kita seperti Salah Jurusan di SMA. kita sama-sama ga suka matematika IPA. sebenernya kita bisa tapi otak kita butuh loading yang lumayan agak lama supaya akhirnya bisa ngerti sama pelajaran itu. tapi kalo ngitung duit gue sama dia jagonya karena kita itu orangnya realistis. yaa ngapain juga kita capek-capek belajar trigono, logaritma, limit, dan kawan-kawannya kalo ga dibutuhin dikehidupan sehari-hari.
jadi selama kelas 3 kita punya prinsip yang sama, yaitu "HANDLED BY ALLAH" dan "DOA IBU" karena apapun yang kita kerjakan tanpa doa seorang ibu dan tanpa tawakal sama Allah maka tidak akan berkah.
makanya setiap lagi ujian dan kita udah ga tau harus gimana lagi alias udah mentok, kita cuma bisa menyerahkan apa yang terjadi sama Allah karena temen-temen sekelas gue pada individualis banget. maklum jurusan gue dulu menuntut mereka buat jadi individualis yaa kecuali gue sama panda yang tidak terikat sama aturan alias bertingkah dengan pola pikir yang beda sendiri dibandingkan anak-anak yang lain.

Bunga pinter banget bisnis. apapun dibisnisin sama dia sampe dia sempet jualan baju di online shop.
Bunga ini dulunya mantan ketua paduan suara di SMA gue, jadi visitor bisa ngebayangin sendiri gimana bagusnya suara dia tapi dia selalu ngakak kalo denger suaranya sendiri yang udah direkam sama dia di handphone.

Dalam semua pelajaran IPA, kita cuma jago dipelajaran BIOLOGI. nah itu satu-satunya pelajaran yang bikin kita masuk di jurusan IPA. kenapa kita jago biologi? ya karena biologi itu lebih real dan penting banget buat kita pelajarin secara biologi kan bahasannya ga jauh-jauh dari fungsi organ dan kesehatan kita. ga kayak kimia yang kita harus membayangkan bagaimana bentuk natrium sesungguhnya ataupun senyawa kimia lainnya. begitupun dengan fisika yang kita diharuskan menghitung sesuatu yang menurut gue GA PENTING secara kita ngitungin kodok loncatlah, berat badan orang di luar angkasa lah, ngitungin air tumpah lain, dll.

Gue sama bunga suka banget pelajaran BAHASA PERANCIS. Kita suka ngebayangin kalo suatu hari nanti kita bakalan jalan di sepanjang Champs-Elysees sambil bawa kantong belanjaan dan minuman disalah satu tangan kita.
menghirup udara kota Paris dan menikmati hiruk-pikuk serta kegiatan di kota Fashion itu.

Bunga itu seneng banget nyanyi.
dulu (katanya) sblm kls 3 SMA dia suka nyanyi-nyanyi sendiri walopun lagi dijelasin sama guru.
maklum, dia terobsesi banget sama Adele.
Dia pengen bgt jadi penyanyi misterius yang cm ada di radio doang tanpa kita bisa tau wujud aslinya.

masalah percintaan? beeehh bunga ahlinya. dia udah ngalamin asam-manis cinta.
mungkin kalo kisah percintaannya dia dijadiin sinetron, bisa-bisa ngalahin Cinta Fitri tuh :D

gue merasa klop banget sama bunga.
Gue merasa senasib sepenanggungan jadi gue kalo cerita sama dia ga pernah ngerasa bosen.
bunga seneng banget baca buku-buku motivasi diri sama buku-buku novel Islam.
kadang gue suka ditawarin baca novel-novel Islam gitu tapi gue nolak krn bahasanya berat bgt.

semenjak masuk jurusan IPA, bunga terobsesi banget masuk kedokteran disuatu PTN.
gue tau banget perjuangangannya dia demi masuk kedokteran.
skrg dia ga masuk kedokteran di PTN yang dia mau tapi dia tetep masuk kedokteran di suatu PTS.
tapi PTS nya itu jg bkn sembarang PTS krn tes masuknya cuma nampung sekitar 150 orang.
kita berdua percaya, Allah memberi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.
 makanya kita selalu berprinsip Handled By Allah.

skrg walaupun kita udah ga satu sekolah lagi tapi komunikasi gue sama panda tetep berjalan baik.
kita saling menjaga silaturahim walaupun hanya lewat telepon.
intinya, gue salut bgt sm panda krn bisa wujudin cita-citanya dia di FK walopun bkn di PTN
 
nah ini linknya kalo visitor mau tau pendapat bunga tentang gue yang dia tulis diblognya dia :

jangan menilai orang lain dari luarnya doang!

Tulisan ini dibuat BUKAN untuk menyindir dan menyinggung seseorang, tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman dan pemikiran gue aja.

oke jadi gini, jaman sekarang semakin banyak aja orang yg "menilai orang lain by the cover" yang jatohnya jadi kayak "pilih-pilih dalam nyari temen". menurut gue, setiap orang punya pendapat dan pemikiran masing-masing dan ga ada yang salah sm semua pendapat mereka. tapi disini hal yang mau gue tekankan adalah "Jangan menilai orang dari luarnya, kenali lebih dalam orang tersebut maka lo bakalan tau karakter asli orang tersebut"
pernah suatu ketika seorang temen gue nanya gini sm gue "kok lo mau sih kenal sama dia? dia kan sombong banget!" nah dari kalimat dia itu gue jadi mikir kalo kita ga seharusnya menilai orang dari luarnya aja dalam mencari teman. selektif dalam memilih teman itu emang sangat dibutuhkan karena jaman sekarang emang banyak banget orang yang terjebak dalam pergaulan yang salah tapi itu semua kembali lagi ke prinsip kita apakah kita mau terpengaruh sama temen kita yg salah pergaulan atau tetep pada kekeuh sama pendirian kita.
mungkin seseorang kelihatan sombong kalo kita belum kenal tapi kalo ternyata setelah kita kenalan orang tersebut perhatian dan baik banget sama kita gimana? lo cuma bisa diem dan seolah-olah kayak "menjilat ludah sendiri" kan? malu sendiri sama pendapat lo sebelumnya.

Memiliki banyak kenalan menurut gue juga bermanfaat karena secara ga langsung kita jadi tau banyak tentang karakter orang yang berbeda-beda.
well, ga ada yang salah dengan memiliki banyak kenalan karena kita ga tau gimana kita dimasa depan dan kita ga tau siapa yang akan menjadi partner kita nantinya. kita boleh selektif dalam berteman tapi kita ga boleh membatasi diri untuk kenalan sama orang yg baru kita kenal karena kita ga akan tahu siapa kita dan siapa mereka dimasa depan.

Minggu, 17 November 2013

you can call me Garfield!

Gue dipanggil Garfield sama temen-temen gue. panggilan ini tercetus dari Dyoza dan Dhika yang bilang katanya body gue gembul dengan mata yg belo dan lesung pipi yang mirip kucing jadi mulai saat itu terciptalah panggilan "Garfield" buat gue. Dari dulu body gue emang ga bisa kurus tapi gampang banget buat gendut but so far gue udah terbiasa sama panggilan ini karena temen-temen kuliah gue pun mulai memanggil gue dengan sebutan Garfield.
But i don't care whatever they said, i'm sexy and i know it! :p

17th!


Tahun lalu waktu gue ulang tahun ke 17 tahun gue dapet surprise dari temen-temen sekelas gue waktu pulang sekolah. jadi waktu paginya gue sih biasa aja karena temen-temen gue pd biasa aja dan ga ada yg mencurigakan. tepat di pelajaran terakhir, gue belajar di lab.biologi dan sewaktu mau pulang ternyata ada surprise dari temen-temen sekelas gue. Terima kasih SafeCalses sampe sekarang kertas ucapannya masih gue simpen loh ;)
Dapet ucapannya juga dari SafeCalses :)

Mahasiswa

Hello, sekarang gue udah jadi Mahasiswa di Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti. dulu gue emang pingin banget masuk jurusan kesehatan tapi bukan dokter/keperawatan melainkan gue pingin banget masuk gizi hehehe. tapi setelah pengumuman SBMPTN dan gue ternyata belum lulus, gue sempet ngedown dan curhat sm bokap gue. entah kenapa bokap gue pengertian banget waktu itu haha.
Dulu gue masuk jurusan IPA di SMA dan gue sempet ngerasa salah jurusan karena setiap belajar materi logaritma, trigonometri, atau materi-materi fisika gue selalu mikir "gue ngapain sih belajar beginian toh ga dibutuhkan juga dalam kehidupan sehari-hari" tapi sekarang mata kuliah gue lebih real dan masuk akal, karena bukan cuma ngitung uang, laba, dan rugi tapi kampus gue sekarang ini (katanya) satu-satunya kampus manajemen transportasi di Indonesia hahaha dan sekarang gue sudah mengubah semua mindset gue dan perilaku gue yg dulunya suka moody.
Selamat datang Kampus Baru, Teman Baru, Kepribadian Baru, Pergaulan Baru, dan Lingkungan Baru :)

Newbie :)

Hello visitor! Selamat datang di blog baru gue :) sebenernya gue dulu udah punya blog tapi berhubung lupa password dan disuruh bikin blog lagi sm dosen gue akhirnya gue bikin lagi deh hihi. Selamat menyaksikan semua keluh-kesah gue yaa. Enjoy ;)