Minggu, 16 April 2017

Ada hal yang tidak baik, namun menjadi wajar untuk cinta di umur 20an. Berdasarkan cerita beberapa kawan dan wejangan dari ibu, saya jadi sadar beberapa hal.

Bukan hal yang menyenangkan, ketika mengetahui pasangan kita berpaling dengan/tanpa sebab. Marah, kesal, dan kecewa adalah reaksi pertama dan utama yang akan terjadi. Namun, seberapa jauhkah kita bisa bereaksi? Mengumpat dan menghancurkan pilihannya atau berpaling dan mencari pilihan yang lebih baik sambil tersenyum? Saya rasa, saya akan merekomendasikan pilihan kedua, walaupun mendengarnya saja sudah sulit.

Di umur ini, kita tidak bisa membatasi dan "mengkerangkeng" pasangan kita untuk seperti ini dan itu. Menjadi penyemangat dan pengamat saja sudah lebih dari cukup. Kita harus membebaskan dirinya mengeksplor apapun untuk merancang masa depannya. Terlebih jika bisa dirancang bersama, bangunlah impian itu dengan baik.

Lalu bagaimana ketika sudah sejauh itu, pasangan kita malah berpaling? Kita tidak bisa menyalahkan dia sepenuhnya. Lalu siapa yang pantas disalahkan? Tidak ada, semua ini masalah pilihan. Saya yakin, sangat berat ketika seseorang berada pada dua pilihan; bertahan atau meninggalkan. Ketika dia memilih bertahan, artinya ada sesuatu yang bisa diperbaiki dan menunjang masa depan keduanya. Namun, ketika dia memilih meninggalkan, dia tidak menemukan hal yang dia butuhkan di masa depan pada diri kita.

Memang terdengar tidak adil. Tapi, hal itu adalah polemik yang saya lihat belakangan. Baik pada diri saya maupun orang-orang sekitar saya. Kita harus berani mengambil keputusan pahit, walau itu akan menyakiti hati seseorang demi sesuatu yang lebih baik di masa depan.

Kita sedang ada di tahap pencarian, jika tidak sesuai, pergi dan tinggalkan. Banyak orang datang dan dengan/tanpa permisi lalu pergi. Tidak usah kecewa atau sedih berlarut-larut, tandanya kita memang sedang sama-sama mencari. Tidak usah pula berharap banyak, seperti kata pesan favorit saya:

"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan pada kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya” – Imam Syafi’i

Cukup percaya, Allah akan menggantikan sesuatu yang Dia ambil dengan yang lebih baik di kemudian hari.

Kamis, 28 Agustus 2014

Tanpa Kita Sadari, Kita Ini Lucu

Kita ini lucu,

mudah menyalahkan, tapi tak mau disalahkan. 

mudah berprasangka tanpa bukti apa-apa, tapi kalau diprasangkai marah-marah tak karuan.

ngomel-ngomel sama orang pelanggar aturan, tapi di lain hari sambil tertawa melanggar aturan sama dengan alasan terpaksa

selalu berharap semua hal dan orang berjalan persis seperti yang kita inginkan, padahal kita bukan Tuhan

sering kali merasa benar, dan orang lain tidak boleh melakukan kesalahan.
sangat gampang mengkritik, tapi giliran dikritik, kita memarahinya balik

selalu ingin dimengerti, padahal ketika ingin seperti itu, berarti kita tidak mau mengerti orang lain

mengomel tidak bisa melupakan, padahal kita sendiri yang selalu mengingatnya

merasa sangat lelah dan tidak ada gunanya menunggu, tapi kita terus melakukan itu

mengeluh tentang selalu disakiti, tapi tidak juga beranjak pergi dari orang yang menyakiti.


Kita ini lucu. Tapi sering tidak merasa kalau kita ini lucu

Nyaman

Nyaman adalah, pada saat aku jatuh dan hampir menangis, kamu datang memelukku dan mengatakan bahwa kamu akan di sini selalu. Bersamaku, mendukungku.
Lalu entah kekuatan dari mana, aku langsung merasa bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.
Dan kamu selalu melakukan hal yang sama setiap aku merasa jatuh dan hampir menangis.

Selalu.

Aku rasa aku sudah cukup dalam mengenalmu. Aku sudah tahu sifatmu, kebiasaanmu dan hal terkecil darimu yang bahkan kau coba tutupi dariku.
Aku tidak peduli pendapat orang lain tentangmu, karena aku lebih mengenalmu dibanding mereka dan sampai detik ini aku masih baik-baik saja berhubungan denganmu.

Lalu, salahkan aku jika aku mempertahankanmu? Mempertahankan orang yang membuatku nyaman dan menutup telinga terhadap semua pendapat orang tentangmu?

Aku sungguh berterima kasih kepada orang-orang yang selalu memperhatikanku, tepatnya memperhatikan hubunganku dan kamu. Tapi untuk saat ini aku sangat berterima kasih pada orang-orang yang memperhatikan hubungan kita dan sangat susah payah berusaha mengubah pikiranku tentangmu.
Tapi tenanglah, Sayang. Aku tidak semudah itu mngubah pikiranku.
Aku telah lama dekat denganmu. Bahkan dari sebelum aku mengenal mereka.
Aku menghargai semua pendapat mereka tentangmu, tapi aku tidak peduli mereka meniilaimu seperti apa karena aku jauh lebih cakap menilaimu. Menilai orang yang selama ini hadir dihidupku dan berada disampingku.
Bukan mereka, yang bahkan tidak mengetahui pengorbanan kita (aku dan kamu) dalam mempertahankan hubungan ini secara nyata.

Aku tidak menuruti egoku. Tapi aku hanya mempertahankan sosok yang selalu membuatku nyaman selama ini.

Jadi, Tidak Bisa atau Tidak Mau?

Banyak yang bilang tidak bisa.

Tidak bisa melupakan orang/kejadian,
Tidak bisa meninggalkan kebiasaan/perbuatan buruk,
Tidak bisa berubah ....

Sebentar, tidak bisa dan tidak mau itu beda.

Menyentuh matahari itu tidak bisa.
Menggenggam bumi itu tidak bisa.
Mengumpulkan bintang itu tidak bisa.

Tapi melupakan, meninggalkan, berubah?
Itu tidak bisa atau tidak mau?

Kamis, 07 Agustus 2014

Satu Shaf di Belakangmu

Aku tahu, kadang-kadang hidup itu tidak adil menurut kita meski sebenarnya Tuhan selalu bersikap adil pada manusia yang diciptakan-Nya Tetapi pada saat kamu merasa hal itu sedang terjadi, dimana kamu merasa sedang jatuh dan dunia memusuhimu, aku selalu disini, di satu shaf di belakangmu.

Kamu bilang, aku ini "rumah"mu. Tentu bukan bangunan atau gedung. Tetapi aku. Jadi sejauh apa pun kamu pergi, kepadakulah kamu akan selalu kembali. Karena itulah, aku selalu disini dan tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dari dulu saat hubungan kita masih memiliki restu dari semua pihak, sekarang saat kita menjadi "buronan" mereka, ataupun nanti disaat kita hidup menua bersama dengan ikatan halal. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang. Jadi, setiap hari, aku bersedia menunggu, menyiapkan teh panas kesukaanmu sementara kamu mengambil air wudhu. Lalu aku akan bersiap berdiri satu shaf di belakangmu.

Dan ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini. Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Karena untuk melihatmu tersenyum, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu.

Aku akan selalu satu shaf di belakangmu, dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua nantinya saat hubungan kita sudah memiliki titik terang dan kita tidak menjadi "buronan" mereka lagi. Tidak hanya ketika berbahagia, tetapi juga ketika kamu sedang pada taraf jatuh sehingga tidak punya siapa-siapa. Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjagaku. Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada satu shaf di belakangmu. Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama dan berterima kasih bersama atas semua bahagia walaupun keadaan hubungan kita yang seperti ini, namun kamu selalu mengajarkanku untuk selalu bersyukur

Berbahagialah Kembali

Dalam hidup, tentunya ada momen dimana kita merasa bosan, tidak nyaman, atau "jatuh". momen yang tidak membahagiakan sama sekali. Tapi sebenarnya kita bisa membangkitkan kembali kebahagiaan kita dalam sepuluh menit atau kurang.
Bagaimana caranya?

1. Menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu tersenyum.
    Karena kita "tahu" bahwa ini hanya sementara, semuanya akan berlalu. Kita akan bisa melaluinya dan kembali baik-baik saja. Selalu

2. Menerima, dan terus berjalan.

"Yang memang milikmu, pasti akan menjadi milikmu.
Yang memang bukan milikmu, pasti tidak akan menjadi milikmu.
Dan yang memang belum waktunya datang, juga tidak akan datang sekarang.
Bagian mana yang belum kamu mengerti?"

Rabu, 02 Juli 2014

Yang Aku Perjuangkan Tapi Kamu Abaikan

Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dalam kisahnya, ia harus berjuang. Berdiam dan menunggu pun termasuk bagian dari perjuangan. Menunggu.Itulah yang selama ini kulakukan sebagai wujud dari perasaanku yang entah mengapa masih ingin memperjuangkanmu.

Aku tahu, setiap malamku selalu kuisi dengan ingatan dan kenangan. Kenyataan yang harus kuterima, kamu tak ada disampingku, entah untuk menenangkan sedihku dan merangkul kesepianku.Dengan sikapmu yang tidak peka seperti itu, mengapa aku masih ingin memperjuangkanmu? Aku tak tahu, jadi jangan tanyakan padaku mengapa aku juga bisa mencintaimu dengan cinta yang benar-benar tidak kupahami.

Ketika suaramu mengalir diujung telepon, ada perasaan rindu yang tidak benar-benar aku ungkapkan. Rindu yang kudiamkan, terlalu sibuk dalam penantian hingga berakhir pada air mata. Apakah kamu tahu akan hal itu? Tentu tidak, kamu tidak memedulikanku sedalam aku memedulikanmu. Tak ada cinta di matamu, sedalam yang kupunya. Tidak ada ketulusan di dirimu, setulus perasaanku padamu. Tapi, dengan kebutaan dan kebisuan yang kupunya, aku masih ingin mempertahankan "kita" yang sebenarnya menimbulkan sakit bagiku.

Kekhawatiranku, yang tak pernah kuceritakan padamu, tentu tak pernah kau pikirkan. Doaku yang kusebut tentu tak seperti doa yang selalu kamu ucapkan. Perbedaan ini sungguh membuatku seakan tak mengerti apa-apa. ketakutanku membungkam segalanya. Apakah kamu pantas untuk diperjuangkan sejauh ini? Akankah kebersamaan kita punya akhir bahagia?

Aku takut.... Aku takut dengan banyak hal yang diam-diam menyerang kita dari belakang. Kebersamaan kita, yang memang tak berjalan dengan mudah ini cukup membuatku lelah, bahkan sangast lelah. Aku ingin berhenti memperjuangkanmu. Aku lelah dihantui kabut hitam yang menodai pencarianku selama ini. Aku inginkan matahari, bukan mendung seperti yang terjadi selama ini.

Dimana kamu ketika aku inginkan kamu disini? Kemana larinya kamu ketika aku berjuang untuk satu-satunya mahluk yang kupikir bisa memberiku kebahagiaan nyata? Seringkali kumaafkan ketidakhadiranmu dan ketidakpekaanmu, seringkali kumaklumi kesalahanmu, dan selalu kuberikan senyum terbaik ketika sesungguhnya aku ingin menangis.

Ini semua perjuanganku untuk mempertahankanmu, apakah sudah cukup menghilangkan ketidakpekaanmu? Inilah perjuanganku, yang selama ini sudah kau abaikan. Apakah hatimu tersentuh, hingga kauingin datang dan membawaku pulang?