Kita ini lucu,
mudah menyalahkan, tapi tak mau disalahkan.
mudah berprasangka tanpa bukti apa-apa, tapi kalau diprasangkai marah-marah tak karuan.
ngomel-ngomel sama orang pelanggar aturan, tapi di lain
hari sambil tertawa melanggar aturan sama dengan alasan terpaksa
selalu berharap semua hal dan orang berjalan persis seperti yang kita inginkan, padahal kita bukan Tuhan
sering kali merasa benar, dan orang lain tidak boleh melakukan kesalahan.
sangat gampang mengkritik, tapi giliran dikritik, kita memarahinya balik
selalu ingin dimengerti, padahal ketika ingin seperti itu, berarti kita tidak mau mengerti orang lain
mengomel tidak bisa melupakan, padahal kita sendiri yang selalu mengingatnya
merasa sangat lelah dan tidak ada gunanya menunggu, tapi kita terus melakukan itu
mengeluh tentang selalu disakiti, tapi tidak juga beranjak pergi dari orang yang menyakiti.
Kita ini lucu. Tapi sering tidak merasa kalau kita ini lucu
Kamis, 28 Agustus 2014
Nyaman
Nyaman adalah, pada saat aku jatuh dan hampir menangis, kamu datang
memelukku dan mengatakan bahwa kamu akan di sini selalu. Bersamaku,
mendukungku.
Lalu entah kekuatan dari mana, aku langsung merasa bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.
Dan kamu selalu melakukan hal yang sama setiap aku merasa jatuh dan hampir menangis.
Selalu.
Aku rasa aku sudah cukup dalam mengenalmu. Aku sudah tahu sifatmu, kebiasaanmu dan hal terkecil darimu yang bahkan kau coba tutupi dariku.
Aku tidak peduli pendapat orang lain tentangmu, karena aku lebih mengenalmu dibanding mereka dan sampai detik ini aku masih baik-baik saja berhubungan denganmu.
Lalu, salahkan aku jika aku mempertahankanmu? Mempertahankan orang yang membuatku nyaman dan menutup telinga terhadap semua pendapat orang tentangmu?
Aku sungguh berterima kasih kepada orang-orang yang selalu memperhatikanku, tepatnya memperhatikan hubunganku dan kamu. Tapi untuk saat ini aku sangat berterima kasih pada orang-orang yang memperhatikan hubungan kita dan sangat susah payah berusaha mengubah pikiranku tentangmu.
Tapi tenanglah, Sayang. Aku tidak semudah itu mngubah pikiranku.
Aku telah lama dekat denganmu. Bahkan dari sebelum aku mengenal mereka.
Aku menghargai semua pendapat mereka tentangmu, tapi aku tidak peduli mereka meniilaimu seperti apa karena aku jauh lebih cakap menilaimu. Menilai orang yang selama ini hadir dihidupku dan berada disampingku.
Bukan mereka, yang bahkan tidak mengetahui pengorbanan kita (aku dan kamu) dalam mempertahankan hubungan ini secara nyata.
Aku tidak menuruti egoku. Tapi aku hanya mempertahankan sosok yang selalu membuatku nyaman selama ini.
Lalu entah kekuatan dari mana, aku langsung merasa bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.
Dan kamu selalu melakukan hal yang sama setiap aku merasa jatuh dan hampir menangis.
Selalu.
Aku rasa aku sudah cukup dalam mengenalmu. Aku sudah tahu sifatmu, kebiasaanmu dan hal terkecil darimu yang bahkan kau coba tutupi dariku.
Aku tidak peduli pendapat orang lain tentangmu, karena aku lebih mengenalmu dibanding mereka dan sampai detik ini aku masih baik-baik saja berhubungan denganmu.
Lalu, salahkan aku jika aku mempertahankanmu? Mempertahankan orang yang membuatku nyaman dan menutup telinga terhadap semua pendapat orang tentangmu?
Aku sungguh berterima kasih kepada orang-orang yang selalu memperhatikanku, tepatnya memperhatikan hubunganku dan kamu. Tapi untuk saat ini aku sangat berterima kasih pada orang-orang yang memperhatikan hubungan kita dan sangat susah payah berusaha mengubah pikiranku tentangmu.
Tapi tenanglah, Sayang. Aku tidak semudah itu mngubah pikiranku.
Aku telah lama dekat denganmu. Bahkan dari sebelum aku mengenal mereka.
Aku menghargai semua pendapat mereka tentangmu, tapi aku tidak peduli mereka meniilaimu seperti apa karena aku jauh lebih cakap menilaimu. Menilai orang yang selama ini hadir dihidupku dan berada disampingku.
Bukan mereka, yang bahkan tidak mengetahui pengorbanan kita (aku dan kamu) dalam mempertahankan hubungan ini secara nyata.
Aku tidak menuruti egoku. Tapi aku hanya mempertahankan sosok yang selalu membuatku nyaman selama ini.
Jadi, Tidak Bisa atau Tidak Mau?
Banyak yang bilang tidak bisa.
Tidak bisa melupakan orang/kejadian,
Tidak bisa meninggalkan kebiasaan/perbuatan buruk,
Tidak bisa berubah ....
Sebentar, tidak bisa dan tidak mau itu beda.
Menyentuh matahari itu tidak bisa.
Menggenggam bumi itu tidak bisa.
Mengumpulkan bintang itu tidak bisa.
Tapi melupakan, meninggalkan, berubah?
Itu tidak bisa atau tidak mau?
Tidak bisa melupakan orang/kejadian,
Tidak bisa meninggalkan kebiasaan/perbuatan buruk,
Tidak bisa berubah ....
Sebentar, tidak bisa dan tidak mau itu beda.
Menyentuh matahari itu tidak bisa.
Menggenggam bumi itu tidak bisa.
Mengumpulkan bintang itu tidak bisa.
Tapi melupakan, meninggalkan, berubah?
Itu tidak bisa atau tidak mau?
Kamis, 07 Agustus 2014
Satu Shaf di Belakangmu
Aku tahu, kadang-kadang hidup itu tidak adil menurut kita meski sebenarnya Tuhan selalu bersikap adil pada manusia yang diciptakan-Nya Tetapi pada saat kamu merasa hal itu sedang terjadi, dimana kamu merasa sedang jatuh dan dunia memusuhimu, aku selalu disini, di satu shaf di belakangmu.
Kamu bilang, aku ini "rumah"mu. Tentu bukan bangunan atau gedung. Tetapi aku. Jadi sejauh apa pun kamu pergi, kepadakulah kamu akan selalu kembali. Karena itulah, aku selalu disini dan tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dari dulu saat hubungan kita masih memiliki restu dari semua pihak, sekarang saat kita menjadi "buronan" mereka, ataupun nanti disaat kita hidup menua bersama dengan ikatan halal. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang. Jadi, setiap hari, aku bersedia menunggu, menyiapkan teh panas kesukaanmu sementara kamu mengambil air wudhu. Lalu aku akan bersiap berdiri satu shaf di belakangmu.
Dan ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini. Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Karena untuk melihatmu tersenyum, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu.
Aku akan selalu satu shaf di belakangmu, dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua nantinya saat hubungan kita sudah memiliki titik terang dan kita tidak menjadi "buronan" mereka lagi. Tidak hanya ketika berbahagia, tetapi juga ketika kamu sedang pada taraf jatuh sehingga tidak punya siapa-siapa. Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjagaku. Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada satu shaf di belakangmu. Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama dan berterima kasih bersama atas semua bahagia walaupun keadaan hubungan kita yang seperti ini, namun kamu selalu mengajarkanku untuk selalu bersyukur
Kamu bilang, aku ini "rumah"mu. Tentu bukan bangunan atau gedung. Tetapi aku. Jadi sejauh apa pun kamu pergi, kepadakulah kamu akan selalu kembali. Karena itulah, aku selalu disini dan tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dari dulu saat hubungan kita masih memiliki restu dari semua pihak, sekarang saat kita menjadi "buronan" mereka, ataupun nanti disaat kita hidup menua bersama dengan ikatan halal. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang. Jadi, setiap hari, aku bersedia menunggu, menyiapkan teh panas kesukaanmu sementara kamu mengambil air wudhu. Lalu aku akan bersiap berdiri satu shaf di belakangmu.
Dan ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini. Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Karena untuk melihatmu tersenyum, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu.
Aku akan selalu satu shaf di belakangmu, dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua nantinya saat hubungan kita sudah memiliki titik terang dan kita tidak menjadi "buronan" mereka lagi. Tidak hanya ketika berbahagia, tetapi juga ketika kamu sedang pada taraf jatuh sehingga tidak punya siapa-siapa. Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjagaku. Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada satu shaf di belakangmu. Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama dan berterima kasih bersama atas semua bahagia walaupun keadaan hubungan kita yang seperti ini, namun kamu selalu mengajarkanku untuk selalu bersyukur
Berbahagialah Kembali
Dalam hidup, tentunya ada momen dimana kita merasa bosan, tidak nyaman, atau "jatuh". momen yang tidak membahagiakan sama sekali. Tapi sebenarnya kita bisa membangkitkan kembali kebahagiaan kita dalam sepuluh menit atau kurang.
Bagaimana caranya?
1. Menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu tersenyum.
Karena kita "tahu" bahwa ini hanya sementara, semuanya akan berlalu. Kita akan bisa melaluinya dan kembali baik-baik saja. Selalu
2. Menerima, dan terus berjalan.
Bagaimana caranya?
1. Menarik nafas panjang, menghembuskannya, lalu tersenyum.
Karena kita "tahu" bahwa ini hanya sementara, semuanya akan berlalu. Kita akan bisa melaluinya dan kembali baik-baik saja. Selalu
2. Menerima, dan terus berjalan.
"Yang memang milikmu, pasti akan menjadi milikmu.
Yang memang bukan milikmu, pasti tidak akan menjadi milikmu.
Dan yang memang belum waktunya datang, juga tidak akan datang sekarang.
Bagian mana yang belum kamu mengerti?"
Langganan:
Postingan (Atom)
